INDUSTRI KREATIF: Produksi Tenun Patra Libatkan Eksplorasi Seni
Oleh: Tri Vivi Suryani - Wed Sep 19, 7:04 pm
- 383 views
- Tweet
DENPASAR-Tenun patra, sebuah karya tenun kontemporer merupakan salah satu industri kreatif yang membutuhkan ruang eksperimen dan eksplorasi untuk mewujudkan karya dinamis.
I Gusti Made Arsawan, pengusaha dan sekaligus desainer tekstil menuturkan lahirnya motif tenun patra ini awalnya dimulai dari gagasan untuk mengembangkan motif tenun ikat (endek) yang lazimnya menggunakan pola geometris. Berangkat dari kemampuan desain dan seni artistik yang selalu dinamis, maka muncullah ide untuk mengadaptasi pola atau motif baru kain tenun yakni menggunakan motif pepatraan, yang umumnya terdapat pada pola seni ukir dinding pura, candi, pintu kayu ataupun kain prada.
Mengingat bentuk motif yang kaya ragam tersebut, maka proses terciptanya sebuah kain tenun patra ini memiliki teknik unik yang tersendiri. Jika umumnya pada tenun hanya menggunakan teknik ikat, untuk tenun patra ini terbilang unik yakni dengan teknik ‘colek’ atau lukis. Kendati menggunakan cat dalam proses pewarnaan dan peembentukan motifnya, Arsawan menilai ketahanan warnanya sama dibandingkan kain tenun endek karena dilakukan teknik ‘colek’ berulang kali hingga mencapai standar ukuran ketahanan kain endek.
Disamping itu, lanjutnya dalam pemilihan catnya dipilih yang berkualitas dan tahan lama serta kandungan kimiawi yang masih bisa ditolerir. Karena proses yang demikian rumit dan motif yang beragam inilah yang menyebabkan proses dari sekumpulan benang hingga menjadi kain tenun patra jadi dibutuhkan waktu sekitar 2 minggu. Terlebih, Arsawan juga menambahkan produksinya yang saat ini berkisar 100 kotak atau 125 lembar per bulan juga terkendala tenaga yang baru berjumlah 8 penenun ditambah 5 seniman untuk menggarap tahapan finalnya.
“Ke depan dengan mengembangkan centra tenun patra yang akan dipusatkan di Bale Timbang Penatih, Denpasar ini, maka saya merencanakan untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga 300 kotak per bulan,” sebutnya.
Dari sisi motif, tenun patra ini mempunyai kelebihan yang membuatnya berbeda dengan tenun endek. Dengan jumlah 9 motif menurut temanya masing-masing yang semuanya mengangkat flora dan fauna, Arsawan ingin memberikan pesan bahwa eksistensi unsur alami dan hewani dapat menjadikan manusia bisa harmonis dengan alam.
Beberapa motif tenun Patra yang diangkat Arsawan diantaranya adalah perpaduan motif patra punggel, Mesir, China dan lainnya berpadu dengan ikon yang dikenal di Bali memiliki makna tertentu seperti tupai, semut, kera hingga naga.
Kualitas produk dan prosesnya yang tidak sederhana hingga melibatkan kreatifitas seni, maka layaklah penilaian akan harga sebuah kain tenun ini disesuaikan untuk segmen pasarnya yang mengarah ke menengah ke atas (high end), yakni Rp1,5 juta per kotaknya. Faktor lain yang menjadikan harganya menjadi 3 kali lipat kain tenun umumnya adalah jumlahnya yang juga tidak begitu banyak.
Namun yang menjadi prioritas tidaklah pada nilai produk, tetapi sebuah penghargaan atas proses kreatifitas karya seni yang bernilai tinggi karena dirancang mulai dari konsep, pengerjaan sampai pada pengemasannya. (redaksi.dps@bisnis.co.id/k2)online casino
- 0 Comments
- 383 views
Print
