KOLOM OPINI: Sisi Gelap Manajemen Kualitas
Oleh: balibisnis - Tue Aug 07, 12:25 pm
- 669 views
- Tweet

Nalendra W. Wiryawan
Penerima Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan Nasional (Intellectual Social Responsibility);
Bachelor of Management, School of Business and Management – Institut Teknologi Bandung;
Master of Science in Strategic Management, Universiteit van Tilburg – Belanda
BAGI sebagian besar perusahaan, unggul dalam kualitas produk atau jasa menjadi salah satu strategi utama untuk memenangkan persaingan pasar. Usaha untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas didasari oleh tujuan perusahaan untuk menciptakan inovasi produk baru (atau jasa) dengan nilai tambah yang optimal dan mereduksi biaya produksi dengan sistem kerja yang lebih efisien. Upaya-upaya tersebut akan meningkatkan pendapatan perusahaan.
Pada dasarnya, manajemen kualitas telah menjadi bahasan yang sangat menarik selama tiga dekade -semenjak tahun 1980-an hingga saat ini- dalam rangka untuk peningkatan kualitas operasional perusahaan. Ruang lingkup pengelolaan ini mencakup seluruh lini perusahaan mulai dari kepemimpinan, sumber daya manusia, informasi, manajemen proses, dan fokus pasar atau pelanggan.
Manajemen kualitas juga dikenal dengan sebutan Total Quality Management (TQM). Berawal dari Jepang dan Amerika sebagai inisiator, TQM telah diterapkan secara komprehensif di berbagai negara termasuk Indonesia. Metode TQM saat ini telah tersebar luas di berbagai sektor industri terutama manufaktur dan jasa. Contoh dari penerapan manajemen kualitas di praktik bisnis adalah sertifikasi ISO dan metode Six Sigma. Krakatau Steel, Kimia Farma, Toyota – Astra Motor dan Telkomsel adalah contoh perusahaan Indonesia yang menerapkan ISO.
Topik ini melibatkan begitu banyak akademisi dan praktisi yang memperdebatkan mengenai dampak dari penerapan TQM terhadap inovasi perusahaan. Banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa manajemen kualitas berhasil menciptakan sistem kerja yang lebih efektif dan efisien sehingga mempermudah perusahaan untuk meningkatkan tingkat inovasinya. Dari banyaknya temuan penelitian mengenai TQM dan inovasi, muncullah opini publik bahwa TQM berdampak baik bagi inovasi perusahaan. Oleh karena itu, semakin banyak perusahaan yang mencoba mengadopsi pendekatan manajemen kualitas. Sugestinya sederhana, TQM dapat merubah korporasi menjadi lebih inovatif. Terutama dari segi pengurangan biaya per unit yang bermuara pada peningkatan keuntunganperusahaan. Pada kasus tertentu, penerapan metode-metode manajemen kualitas juga menjadi prasyarat hubungan kerja antara penjual dan pembeli karena dipercaya sebagai ‘sinyal’ yang menjamin kualitas barang atau jasa yang diperdagangkan.
Bagaimanapun juga, ada sebagian bukti empiris yang menunjukkan bahwa TQM tidak selamanya dapat memberikan dampak positif bagi inovasi perusahaan.Riset menunjukkan bahwa TQM menghambat kemampuan korporasi untuk berinovasi dengan cepat karena terlalu banyak birokrasi yang harus dijalankan. Kemudian manajemen kualitas ini juga melibatkan dokumentasi proses dalam jumlah besar, sehingga memperlambat akselerasi perusahaan untuk fokus kepada perancangan desain produk baru.TQM dapat membantu perusahaan untuk membuat inovasi kecil pada suatu produk namun terbukti tidak efektif dalam menyediakan ruang bagi korporasi untuk melahirkan terobosan-terobosan baru.Dampak buruk lainnya adalah standarisasi sistem yang diberlakukan berdasarkan TQM menjadikan perusahaan cenderung enggan untuk melakukan perubahan baik secara organisasi maupun proses produksi karena akan memakan waktu yang lama dan investasi yang tidak sedikit. Studi empiris membuktikan bahwa TQM memang menciptakan sistem usaha yang lebih efisien namun tidak kondusif untuk mendukung proses transformasi perusahaan dalam skala besar.Jika ditinjau dari skala inovasi, perusahaan-perusahaan yang baru berdiri tergolong belum memadai untuk mempraktikkan TQM karena kurangnya sumber daya yang dibutuhkan. Maka dari itu, tipe metode manajemen kualitas ini tidak bersifat universal.
Hal-hal tersebut merupakan hasil riset yang telah dilakukan di pelbagai universitas ternama di dunia seperti Harvard, Stanford, Monash, Erasmus dan Tilburg. Temuan tersebut membuka tabir bahwa penerapan TQM tidak selamanya mendatangkan keuntungan bagi korporasi.Sisi gelap inilah yang harus diinformasikan kepada praktisi bisnis terutama bagi yang berkutat di bidang operasi. Banyak pelaku usaha yang mengupayakan TQM untuk dapat diimplementasikan di perusahaan tanpa mempertimbangkan dampak buruknya di masa mendatang.Alhasil banyak potensi perusahaan yang terperangkap yang diakibatkan olehbirokrasi dan formalitas yang disyaratkan oleh TQM. Konsekuensinya, daya gedor perusahaan untuk berinovasi menjadi kurang optimal.
Hal ini tentu harus disikapi secara kritis bahwa penyesuaian kondisi dan karakteristik perusahaan terhadap teknik manajemen kualitas tertentu sangatlah penting.Para pengambil keputusan harus memiliki visi yang tajam apakah TQM dapat berjalan sesuai dengan jati diri perusahaan. Korporasi yang berkembang di sektor usaha dengan pergantian teknologi yang cepat dan arus inovasi yang tinggi kemungkinan kurang sesuai untuk menerapkan TQM secara menyeluruh. Begitu juga dengan perusahaan-perusahaan yang baru didirikan atau yang berskala relatif kecil seperti UKM dimana inovasi-inovasi banyak dilahirkan.
Terkadang ketatnya prosedur dan sistem kerja dapat menjadi keunggulan kompetitif. Namun, kapabilitas perusahaan untuk dapat ‘melompat’ lebih jauh juga perlu diperhitungkan. Terhambatnya sumber daya perusahaan untuk menghasilkan breakthroughperlu dihindari. Oleh karena itu, pengambil keputusan haruslah menjaga keseimbangan antara membenahi efisiensi kinerja perusahaan dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perusahaan untuk berinovasi. Mengetahui ‘sisi gelap’ TQM dapat menjadi titik tolak untuk meningkatkan kinerja perusahaan di masa depan. Dengan demikian, potensi perusahaan untuk dapat mereduksi biaya dan menghasilkan produk baru dapat terus dioptimalkan. (redaksi.dps@bisnis.co.id/k2)online casino
- 0 Comments
- 669 views
Print