KRISIS KEDELAI: Tak Pengaruhi Produksi Lokal Bali
Oleh: I Komang Robby Patria - Tue Jul 31, 8:10 am
- 104 views
- Tweet
DENPASAR-Krisis kedelai nasional tidak berpengaruh besar terhadap produksi lokal dan peningkatan harga di tingkat konsumen tidak terlalu siginifikan.
Ketut Teneng, Kepala Biro Humas dan Protokol Provinsi Bali, kemarin, menuturkan harga kedelai di tingkat petani Bali mulai bulan Juni berada pada kisaran Rp6.300 sampai Rp6.500 per Kg, sedangkan di tingkat pasar Rp7.500 sampai dengan Rp8.000. Jika dibandingkan dengan harga rata-rata kedelai di tingkat grosir Rp4.688 pada tahun 2006, Rp6.417 pada tahun 2007, Rp7.097 tahun 2008 dan Rp6.630 tahun 2009, maka fluktuasi kenaikan harga kedelai tidak terlalu signifikan.
Di sisi lain, faktor yang menyebabkan stabilnya harga kedelai di pasaran adalah dengan rata-rata produksi kedelai di provinsi Bali selama lima tahun terakhir (2007-2011) yang berkisar pada 9.010 ton, dimana angka tertinggi tercapai pada tahun 2009 yakni sebesar 13.531 ton.
Alhasil, kata Teneng hal tersebut menjadikan Bali masuk dalam 12 besar provinsi produsen kedelai dengan kontribusi 1,39% dari total produksi nasional sebesar 972.945 ton disamping juga terdapat penambahan dari impor kedelai sebesar 753.914 ton.
Untuk luas lahan, Teneng menyebutkan penanaman kedelai tersebar di 9 kabupaten / kota di Bali dengan potensi terluas terdapat di kabupaten Jembrana, Klungkung, Tabanan dan Badung dengan rata-rata luas tanam 7.193 hektare, luas panen 6.640 hektare dan produktifitas 13,52 kuintal per hektare.
Kendati demikian, jika dibandingkan dengan analisis untung rugi (B/C ratio), maka jelas rasio kedelai lebih kecil daripada padi, terlebih dengan ditingkatkannya Harga Patokan Pemerintah (HPP) padi provinsi Bali dari Rp 2.640 menjadi 3.300 per Kg kemudian harga gabah petani berkisar Rp 3.768 per Kg belum termasuk ongkos panen Rp 400 / Kg. Bahkan, jika terlihat di areal persawahan masih ada air, jelas-jelas petani kemudian lebih memilih padi ketimbang kedelai.
Selain itu, keadaan yang dinilai membuat harga petani menjadi kecil adalah kesalahan petani sendiri yang tidak langsung menjualnya kepada konsumen, tetapi terlebih dahulu melalui tengkulak, pengepul baik yang besar atau kecil, ke pasar lalu baru kemudian ke konsumen.
“Setelah beberapa tahapan jalur penjualan, pada akhirnya harga kedelai membuat semakin tidak menarik bagi petani karena harga yang diterima oleh mereka terlalu kecil,” ungkapnya hari ini.
Sementara itu, untuk meningkatkan produksi kedelai, pemerintah provinsi Bali telah melakukan beberapa upaya diantaranya Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) kedelai sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2012 seluas 4.500 hektare atau setara sebesar 62,56% dari total luas tanam Bali yang dialokasikan di Jembrana sebesar 1.500 hektare, Tabanan 1.000 hektare, Badung 1.000 hektare dan Klungkung 1.000 hektare.
Lebih lanjut Teneng menambahkan dalam program tersebut kelompok tani mendapat Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU), Sekolah Lapangan serta pendampingan dari petugas.
Upaya lainnya adalah untuk meningkatkan luas penanaman kedelai di provinsi Bali dapat dilaksanakan melalui Tumpang Sari pada areal-areal perkebunan yang penanamannya masih kecil atau baru mulai menanam yang juga dapat difungsikan menjadi sumber nitrogen bagi tanaman induknya.(redaksi.dps@bisnis.co.id/k2)online casino
- 0 Comments
- 104 views
Print