KULINER BALI: Laklak Warisan Budaya yang Digemari
Oleh: Steffi Novita Purba - Fri Jun 29, 6:56 pm
- 392 views
- Tweet
DENPASAR–Pesta Kesenian Bali XXXIV di Art Centre Denpasar yang berlangsung selama sebulan bukan hanya menyajikan seni tari dan kerawitan tetapi juga menampilkan berbagai jajanan termasuk yang ditampilkan di stand kuliner milik Men Gabrug.
Semua manusia memerlukan asupan makan, tentu dengan kegemaran masing-masing. Beda lidah, beda daya tangkap rasa, begitu pula lain lokasi, berbeda pula budaya memasaknya.
Men Gabrug adalah perempuan paruh baya, berusia sekitar 60 tahun, asal Buleleng, Bali yang membawa kenangan masa kecilnya ke PKB dengan menjual Laklak.
Laklak adalah jajanan Bali yang terbuat dari campuran tepung beras, santan, garam dan diberi perasan daun suji sebagai pewarna hijau alami. Bahan-bahan tersebut diaduk menjadi adonan yang sedikit mengental. Untuk memasaknya, adonan tersebut dituang dalam cetakan setengah bulat berdiameter 4-5 cm di atas tungku pembakaran kayu.
Peralatan masak yang digunakan Men Gabrug masih tradisional, berupa pinggan yang terbuat dari tanah liat sebagai cetakan Laklak. Sementara tungku pembakar kayu hanya merupakan susunan batako sebagai pelindung api dari angin sekaligus penyangga pinggan.
Proses memasaknya pun unik. Men Gabrug mengawali dengan menaburkan bubuk kemiri di atas pinggan cetakan, baru kemudian adonan dituang sesuai dengan daya tampung cetakan. Hanya dalam 2-3 menit, Laklak panas siap disajikan ke pelanggan.
Sepintas Laklak hampir sama dengan Serabi yang dikenal di Jawa, karena sama-sama menggunakan gula aren sebagai penyempurna rasa. Bedanya, Laklak berwarna hijau dan mengeluarkan aroma khas daun suji, serta bertabur kelapa parut. Laklak dijual Rp5.000 per porsi, berisi lima buah laklak.
Pada kondisi normal, biasanya Men Gabrug menjual 10 kilogram Laklak per hari di pasar. Namun di PKB, penjualannya melonjak dua kali lipat menjadi 20-25 kilogram per hari. Tingginya permintaan membuat Men Gabrug kerepotan. Meski sudah dibantu oleh anak-anaknya, tetap saja pembeli harus antri untuk bisa menikmati Laklak buatannya.
PKB menjadi berkah tersendiri bagi penjaja makanan seperti Men Gabrug. Omset yang meningkat sudah tentu memberikan keuntungan lebih baginya. Namun jangan lupa, untuk berdagang di kawasan Art Centre, tempat berlangsungnya hajatan tahunan Pemerintah Provinsi Bali, Men Gabrug dan kawan-kawan juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar sewa tempat. Terlepas untung atau rugi, di PKB Men Gubrag mendapat tempat bergengsi untuk memasarkan sekaligus melestarikan produk budaya dapurnya.(redaksi.dps@bisnis.co.id/k2)online casino
- 0 Comments
- 392 views
Print