LUKISAN SIDIK JARI: Gede Pemecutan Pameran Tunggal
Oleh: Ema Sukarelawanto - Mon Jul 02, 10:20 am
- 482 views
- Tweet
DENPASAR–Seniman I Gusti Ngurah Gede Pemecutan akan menerima penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai “Pelopor Teknik Melukis dengan Sidik Jari dan Kolektor Sidik Jari Terbanyak” pada Rabu (4/7) mendatang bersamaan dengan pembukaan pameran tunggal di Museum Lukisan Sidik Jari Denpasar.
Museum Sidik Jari yang diresmikan pada 4 Juli 1993 dan dibuka untuk umum pada 1995, hingga kini memiliki 200 koleksi lukisan dan kerajinan, 98 di antaranya merupakan Lukisan Sidik Jari karya I Gusti Ngurah Gede Pemecutan. Teknik melukis dengan Sidik Jari tersebut ditemukannya tanpa sengaja pada 9 April 1967.
“Waktu itu seorang pelukis mendatangi studio lukis saya di Kuta untuk melukis bersama. Tapi ternyata saya merasa dibohongi karena lukisannya tidaklah sebaik sketsa-sketsa yang ia tunjukkan sebelumnya. Dalam keadaan marah, saya pun merusak lukisan dengan jari-jari dan meninggalkannya, “ tutur Ngurah Gede Pemecutan, hari ini.
Namun berawal dari kegagalan lukisan tari baris yang dirusaknya tersebut Ngurah Gede Pemecutan berhasil menemukan teknik melukis baru, yakni dengan menggunakan sidik jari. Gaya totolan sidik jari itulah yang kemudian membawa nama I Gusti Ngurah Gede Pemecutan berbeda dengan gaya pelukis-pelukis lain pada masanya. Hingga kini, teknik melukis dengan sidik jari ini belum ada duanya di Indonesia, bahkan dunia.
Pada pameran tunggal yang akan berlangsung hingga 20 Agustus akan menampilkan 16 karya terpilih 1967-2012. Dia menjelaskan dari 98 karya lukisan yang tersimpan di museum terdapat 1.507.725 sidik jarinya.
Rektor ISI Denpasar Prof. I Wayan Rai mengatakan karya Pemecutan merupakan rangkaian proses kreatif yang panjang dan mampu menghasilkan karya-karya dengan ciri kepribadian yang kuat. “Di samping kegetolannya melakukan inovasi dan mempertahankan gayanya, kepribadiannya yang kuat nampak dalam upaya mendirikan museum, membina seni, menulis, dan lain sebagainya,” komentar Rai dalam buku biografi Sidik Jari I Gusti Ngurah Gede Pemecutan yang ditulis Aga Herman (Lintas Kata Publishing, 2011).
Mendirikan PAUD
Di sela pembukaan pameran ini akan diresmikan Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kerti Budaya, yang didirikan atas kerjasama Yayasan Kerti Budaya dengan Museum Lukisan Sidik Jari. “Konsep museum bagi saya adalah untuk tujuan pendidikan, maka kami arahkan Museum Lukisan Sidik Jari ini sebagai museum pendidikan,” kata Pemecutan.
Di tempat ini juga diselenggarakan aneka pelatihan melukis, tari Bali, gamelan, juga ada kursus Bahasa Bali dan Bahasa Jepang. Sedangkan Sekolah PAUD Kerti Budaya dijadikan rintisan sekolah dengan biaya terjangkau, namun tetap mengedepankan mutu pendidikan yang setara dengan sekolah yang cenderung berbiaya tinggi.
Museum Lukisan Sidik Jari berupaya memberikan kontribusi optimal untuk pengembangan edukasi bagi generasi muda. Terbukti melalui beragam kegiatan yang berlangsung di museum ini yang senantiasa merangkul dan memberi ruang kreasi kepada kolompok-kelompok anak muda mengadakan diskusi, kesenian, workshop, pemutaran film dokumenter, serta berbagai aktivitas lainnya. Museum ini juga menyediakan perpustakaan serta taman bacaan untuk anak-anak dan umum yang bekerjasama dengan Komunitas Nyuh Gading dan Komunitas Sahaja di Denpasar.(redaksi.dps@bisnis.co.id/k2)online casino
- 0 Comments
- 482 views
Print
