NYEPI 2012: Hening sehari untuk memaknai hidup

Oleh: Ema Sukarelawanto - Thu Mar 22, 12:18 pm

RIBUAN ‘raksasa’ telah bergerak mengepung Bali. Mulai pagi tadi miniatur raksasa atau ogoh-ogoh berpindah dari balai banjar ke pinggir jalan dan sore ini saat pengerupukan bakal diarak keliling kawasan dalam ritual tawur kesanga.

Warga Denpasar sukacita menyambut ritual sehari menjelang Nyepi, Tahun Baru Saka 1934. Pembuatan ogoh-ogoh telah berlangsung sejak dua pekan bahkan sebulan lalu. Para teruna-teruni menuangkan kreativitas tinggi menggambarkan bhutakala dengan berbagai bentuk sebagai simbol kejahatan yang akan dibakar (pralina) malam nanti. Inilah prosesi untuk mengusir roh-roh jahat yang mengganggu keharmonisan lingkungan secara niskala.

Jumat, 23 Maret besok, Bali yang biasanya sarat dengan aktivitas pariwisata, bakal hening sehari-semalam. Mulai Jumat pukul 06.00 pagi hingga Sabtu pukul 06.00 umat Hindu melaksanakan catur brata penyepian. Seluruh penghuni Pulau Bali menghormati ritual ini. Jalan raya, pasar, perkantoran, sekolah, rumah makan, hotel, dan denyut aktivitas lainnya praktis terhenti. Pelabuhan Padangbai, Benoa, Celukanbawang, Gilimanuk serta Bandara Ngurah Rai menghentikan aktivitas pelayaran dan penerbangan.

Jagat kosmis Bali seolah melakukan pembersihan residu yang lekat menempel selama setahun ini. Semesta diberikan kesempatan untuk tidak menerima polusi baik suara maupun udara. Bagai mengistirahatkan alat pencernaan dalam lambung, proses harmonisasi secara vertikal dan horisontal dilaksanakan melalui sebuah laku religius: proses menuju kekosongan (sunya) untuk meraih kesempurnaan hidup.

Selama 24 jam umat Hindu melakukan catur brata penyepian untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, Hyang Widhi Wasa. Mereka menjalankan puasa dengan berpantang menyalakan api (amati geni), tidak bepergian ke mana pun (amati lelungan), tidak menikmati hiburan (amati lelangunan) dan tidak bekerja (amati karya).

Pengekangan hawa nafsu merupakan awal perenungan untuk mawas diri secara paripurna. Kesemuanya itu untuk pembersihan diri dan merupakan keharusan bagi umat Hindu. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan; brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan Sang Khalik), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (menunggal kepada Tuhan, yang bertujuan kesucian lahir batin).

Rohaniwan Ida Pedanda Gde Made Gunung dalam sebuah wejangan beberapa waktu lalu mengatakan peristiwa Nyepi meletakkan dasar pendidikan moralitas agar dapat mengubah perilaku manusia. Dengan kejernihan jiwa, pribadi-pribadi umat diharapkan mampu membangun peradaban baru. Kata dia pada saat Nyepi umat Hindu mawas diri dan membangkitkan kesadaran baru untuk memaknai hidup yang lebih baik.

Moratorium aktivitas selama sehari menciptakan keheningan yang memberikan kesempatan panjang untuk melakukan introspeksi, mengevaluasi diri, apakah perilaku sepanjang tahun ini ada yang menyimpang dari sastra-sastra agama maupun tatanan kehidupan sosial-kemasyarakatan lainnya. Hasil renungan itu diharapkan memperbaiki kualitas hidup dengan menata perilaku kehidupan sehari-hari dengan menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan (Trihita Karana).

Meskipun PLN tidak memadamkan aliran listrik, warga non-Hindu pun bertoleransi untuk tidak menyalakan lampu. Sejak dua tahun lalu, pemerintah membuat kebijakan radio dan televisi stop siaran saat Nyepi. Banyak yang dipetik dari suasana seperti ini: tepa selira, penghematan, tetirah, kontemplasi, dan banyak hal yang bisa dilakukan untuk menghimpun energi positif kita. Apalagi, Nyepi kali ini bertepatan dengan umat muslim melakukan kewajiban salat Jumat. Warga muslim Banjar Tegal Kori, Denpasar Utara, misalnya, memilih jumatan di rumah salah satu warga sehingga bisa ditempuh dalam jarak yang dekat, dibanding ke masjid yang jauh.

Ritual setahun sekali ini juga menjadi impian sebagian turis yang kagum budaya masyarakat Bali. Kendati dilarang bepergian, ikut merasakan kesunyian Pulau Dewata memberikan pengalaman tersendiri bagi wisatawan asing yang sehari-hari tak lepas dari aktivitas rutin. Ada sejumlah hotel menawarkan paket Nyepi di hotel.

Nyepi yang sesungguhnya memang hanya ada di Bali. Pada sesi pembukaan Konferensi Internasional tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) yang digelar PBB 2007 silam di Bali, Gubernur Bali (ketika itu) Dewa Made Beratha menyajikan film tentang Nyepi menjelaskan penghentian kegiatan sehari tersebut dapat mengurangi emisi 20 ribu ton karbon dioksida (CO2). Banyak delegasi yang kagum dan mengikuti satu sesi tentang Nyepi yang digelar LSM. Entah, apakah model Nyepi akan diadopsi dalam bentuk yang lain untuk mengurangi polusi di bumi ini.

Yang jelas, Nyepi selalu memberikan kesadaran baru dan semoga pemaknaannya menghadirkan spirit baru untuk kehidupan yang lebih damai. Selamat Tahun Baru Saka 1934 kepada semeton yang merayakan.online casino

Leave a Reply

Comments are closed on this post.