Pameran seni fotografi di Tonyraka Ubud

Oleh: Bisnisdotcom - Wed Jan 11, 9:25 am

DENPASAR: Tonyraka Art Gallery menyelenggarakan pameran seni fotografi dengan menampilkan karya dari enam seniman, yaitu Jan Tyniec, Made Wianta, Linda Connor, Lonnie Graham, Vladik Monroe dan Joel Singer pada 13 Januari 2012.

Pameran dengan tema Art Infinitum keenam seniman yang bekerja dengan medium fotografi mengambil posisi bahwa justru karena paradoksnya, lantaran adanya jurang antara subyektivitas mata fotografer dan obyektivitas teknologi kamera.

“Fotografi memiliki ketakterbatasan sebagai seni yang terus-menerus meredefinisi dirinya sendiri, dan sekaligus cara kita dilihat maupun cara kita melihat dunia dan diri kita sendiri,” kata kurator Arif Bagus Prasetyo, Kamis 5 Januari.

Kecuali satu seniman Indonesia (Made Wianta), pameran ini melibatkan seniman Barat (Jan Tyniec, Linda Connor, Lonnie Graham, Joel Singer, Vladik Monroe) yang tentunya lebih akrab dengan wacana dan sejarah fotografi, medium yang lahir dan mencapai kedewasaannya di Barat.

“Sekelumit sejarah dan wacana fotografi dipandang perlu dikemukakan sebagai latar-belakang, mengingat pameran ini berlangsung di Indonesia, di mana sejarah dan wacana fotografi kurang dikenal oleh publik seni rupa, bahkan oleh kalangan perupa dan fotografer sendiri,” tutur Arif Bagus.

Pameran Art Infinitum menyajikan fragmen kecil dari fotografi sebagai bentuk seni yang terbatas, tetapi mengandung ketidakterbatasan dalam dirinya. Sebentuk seni yang berevolusi sepanjang waktu. Fotografi sebagai art infinitum.

Dalam karya Made Wianta, penggunaan fotografi dilepaskan dari kaitan dengan seni fotografi. Wianta memperlakukan medium fotografi dengan sikap anti-seni fotografi.

Mengingatkan kepada strategi seni konseptual di Barat era 1960-an, Wianta mengadopsi fotografi sebagai sarana untuk melampaui objek dan menggarap sistem-sistem tanda budaya secara langsung. Seperti Douglas Huebler dan Victor Burgin, dia merangkul karakter fungsional dan anti-estetik fotografi yang disembunyikan oleh estetisisme fotografi.

“Fotografi memungkinkan saya untuk menciptakan citra yang paling lugas, namun sangat personal, tentang air, langit, tanah dan bunga teratai atau orang dalam konteks lanskap, kepercayaan, dan yang terpenting, mitos. Proses kerja saya sangat emosional dan sering menantang, karena saya ingin mencapai hubungan paling intim dan pemahaman tentang subyek,” kata Jan Tyniec.(Hery Suhendra/ea)online casino

Leave a Reply

Comments are closed on this post.