Profil Dirut PT Pos, I Ketut Mardjana

Oleh: Bisnisdotcom - Thu Jan 05, 9:53 am

I Ketut Mardjana

Terlahir dari keluarga sederhana dengan ayah seorang petani dan ibu yang buta huruf, membuat I Ketut Mardjana berkeinginan keras mengubah nasib. Pria asal Kintamani, Bali ini punya keyakinan hanya dengan belajar hidup akan menjadi lebih baik.

Dengan ilmu pulalah dia mampu mengubah nasib PT Pos Indonesia (Posindo) dari yang sebelumnya selalu rugi pada 2008 kerugian itu mencapai Rp71 miliar dan hingga kesulitan membayar gaji karyawan menjadi BUMN yang untung hanya dalam tempo 1 tahun.

Kepada Bisnis, dia mengungkapkan tentang kiat merevitalisasi Posindo, kesulitan yang dihadapi serta konsep hidupnya. Berikut petikan wawancaranya:

Seperti apa kondisi PT Pos Indonesia saat Anda mulai pemimpin?

Semua orang tahu PT Pos Indonesia (Posindo). Umurnya sudah 265 tahun, berdiri 26 Agustus 1746 untuk memfasilitas perdagangan dengan VOC Belanda. Dalam perjalanannya perusahaan ini beberapa kali berubah status, dari Jawatan Pos Telegraf dan Telepon (PTT) kemudian menjadi perusahaan negara (PN), dan pada 1995 menjadi perseroan terbatas (PT).

Mengingat awal pendiriannya seperti itu, pegawainya dulu berstatus PNS [pegawai negeri sipil] dan menempel ke pemerintah.

Sejak menjadi perseroan terbatas, statusnya tidak lagi menempel ke pemerintah namun sebagai badan usaha. Namun demikian, mengingat begitu lama melekat ke pemerintah, Posindo cenderung bersifat birokrasi, misalnya, sistem keuangan tidak dikelola selayaknya korporasi akan tetapi mirip di pemerintahan, belanja hanya asal ada bukti keluar.

Dampak ini yang menyebabkan Posindo kehilangan arah. Setelah berubah menjadi PT, Posindo kehilangan tempat bergantung, sementara pada saat yang sama manajemennya masih bergaya pemerintahan.

Kita lihat sejak 2003, Posindo kehilangan pangsa pasar, kinerja turun terus. Sepanjang 2004-2008 perusahaan rugi terus bahkan mengikis modal. Pada 2004 kerugiannya mecnapai Rp235 miliar, sampai kesulitan membayar gaji karyawan.Saya masuk Posindo pada Agustus 2008, saat perusahaan masih merugi Rp71 miliar.

Saya lantas turun ke lapangan, mencari tahu apa sih penyebabnya. Ternyata banyak masalahnya. Kendaraan operasional sudah berumur tua di atas 10 tahun sehingga tidak efisien. Kalau kita lihat pesaing-pesaing kita, mereka menggunakan armada bagus. Dari segi atitude kami juga kalah. Maka itu, saya ganti semua kendaraan, pakai sistem sewa. Setelah saya ganti semuanya, biaya operasional turun total. Dari semula rugi Rp71 miliar pada 2008, akhirnya bisa untung Rp98 miliar pada 2009.

Kondisi tersulit apa yang pernah Anda hadapi?

Kondisi tersulit ya saat pertama kali masuk. Saya tidak punya pengalaman soal pos, akan tetapi saya pernah kerja di pemerintahan bahkan menjadi komisaris di perusahaan swasta. Di swasta, antara komisaris, pemegang saham dan direksi punya hubungan yang bagus.

Saat masuk Posindo, antara komisaris dan direksi terdapat perbedaan arah, sampai-sampai saya bilang begini:“Yang keluar saya atau komisarisnya’. Akhirnya komisaris pun diganti.

Selain itu, kondisi tersulit lainnya adalah masalah sumber daya manusia. Jumlah pegawai Posindo mencapai 28.000 orang, yang mana sekitar 90% di antaranya berpendidikan SMA ke bawah. Tak banyak pegawai yang lulus sekolah tinggi. Akibatnya pengambil keputusan strategis menjadi susah.

Pegawai Posindo juga didominasi usia 35 tahun ke atas. Kalau ada yang pensiun, tidak ada penggantinya karena sudah lama tidak merekrut karyawan baru. Mereka umumnya juga susah diajak berubah. Setiap perubahan memunculkan penolakan. Inilah masa-masa sulit.

Lantas bagaimana gaya kepemimpinan yang Anda terapkan?

Untuk tahun pertama, gaya manajemen saya adalah partisipatif. Namun, dalam bertindak saya harus otoriter, agar perubahan bisa dilakukan. Memang berat dan banyak yang berpendapat kadang saya terlalu keras.

Apa keputusan yang Anda anggap paling strategis?

Pada 2009 saya rombak manajemen. Saya perbaiki gaji dan fasilitas dinaikkan 23% dibandingkan dengan kondisi 2008. Pada 2010 dinaikkan lagi 18%. Dampaknya, produktivitas semakin baik.

Sebagai keseimbangan, sistem punishment juga kita lakukan. Dampak positifnya, pada 2009 perusahaan mulai menghasilkan laba dan pada 2010 labanya mencapai Rp49 miliar. Pada 2011, kami targetkan keuntungan kembali naik menjadi Rp127 miliar. Dengan adanya laba inilah sampai-sampai Pak Menteri mempertanyakan, benar enggak laba ini, karena sudah bertahun-tahun Posindo selalu merugi.

Keputusan lain yang juga penting adalah memodernisasi fasilitas termasuk meremajakan kendaraan operasional pengiriman surat dan logistik. Pemanfaatan teknologi informasi dioptimalkan dan kantor pos direhab dengan tampilan baru cat orange.

Sekarang sistem TI kami mulai dilirik bank dan nonbank. Bank Mandiri sudah menyepakati untuk menyalurkan kredit mikro yakni KUR melalui Posindo. Mandiri kan tidak punya banyak cabang di pelosok kecamatan. Dengan menggandeng Posindo, Bank Mandiri bisa memakai kantor pos yang jumlahnya 3.800 cabang di 33 provinsi, di seluruh kabupaten dan kecamatan.

Apa rencana aksi korporasi ke depan?

Pekerjaan di Posindo masih banyak sekali. Potensi bisnisnya juga sangat besar. Jejaring kami yang begitu luas ini merupakan keunggulan, sehingga banyak yang masih harus kami kerjakan. Pada 2009, kami baru meletakkan pondasi. Pada 2010, revitalisasi sudah dilakukan sehingga lebih terstruktur.

Saya susun skenario program 5 tahun ke depan di mana dari sana akan dibuat roadmap [peta jalan]. Kami memulai program revitalisasi pada 2011 hingga 2015. Ada beberapa perubahan yang sangat mendasar. Pada 2011-2012 kami tetapkan sebagai tahun restrukturisasi/penyehatan, selanjutnya pada 2013 ditargetkan sudah melakukan pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia. Dan pada 2014-2015 saatnya melakukan ekspansi segmen bisnis.

Soal IPO, kami tentunya harus menyesuaikan dengan kondisi pasar sambil kami benahi tampilan neraca. Misalnya, dari sisi aset, nilai buku Posindo hanya tercatat Rp450 miliar, karena tidak pernah dievaluasi. Padahal, berdasarkan harga pasar nilainya sekarang sudah mencapai Rp5 triliun.

Bagaimana mempersepsikan pelanggan dan pesaing?

Kepada pelanggan tentu kami pelihara sebaik-sebaiknya dengan memberikan pelayanan terbaik, misalnya, menjalin kemitraan dengan bank untuk menambah layanan. Yang penting bagaimana memberikan hal-hal positif kepada pelanggan.

Soal pesaing, banyak yang mengatakan pesaing adalah musuh. Akan tetapi bagi kami, pesaing malah menjadi feed back, khususnya mengenai harga dan jasa sehingga bisa tahu bagaimana posisi harga dan pelayanan kami. Adanya pesaing memacu kita menjadi lebih baik. Bahkan pesaing bisa jadi partner dengan melakukan kolaborasi. Misalnya DHL, dia bisa memakai jaringan Posindo yang luas hingga ke desa, sebaliknya untuk ke luar negeri Posindo bisa menggunakan jaringan DHL.

Siapa yang berperan dalam sukses Anda?

Bagi saya, yang paling berperan adalah knowledge [pengetahuan] dan network [jaringan]. Untuk urusan sekolah, saya selalu mendapat beasiswa hingga sampai ke luar negeri. Orang tua saya adalah orang desa, petani. Ibu buta huruf. Kalau saya tidak sekolah, saya tidak bisa mengubah keadaan. Jadi pengetahuan itulah yang mengubah dan membawa hidup saya.

Bagaimana cara menyiapkan kader pemimpin?

Sistem manajemen saya partisipatif. Dengan kolaborasi bekerja, kami punya pengetahuan yang sama andai saya kelak diganti. Saya biasa turun ke bawah, sampai pegawai yang paling bawah pun saya ajak bicara dan duduk bersama sambil lesehan. Ini saya lakukan sampai ke kantor pos pelosok. Saya berfikir, jika hanya pegang hierarki, kita tidak dapat tahu akar masalah yang sebenarnya. Ada saatnya bercanda, tidak harus terus jaim [jaga image]. Dekat itu harus.

Siapa tokoh idola Anda?

Saya mengagumi pemimpin-pemimpin kita seperti Soekarno. Beliau membangun nilai kebangsaan, nasionalisme, kemerdekaan, hingga pembangunan human resources. Pak Harto [Soeharto], orang desa yang bisa membangun ekonomi negara. Gus Dur, orang yang egaliterian, nasionalis, tidak ada sekat-sekat. Kebudayaan Tionghoa diakomodir sebagai bagian dari keragaman berbangsa.

Saya juga kagum pada Pak SBY [Susilo Bambang Yudhoyono]. Dia pemimpin yang santun, punya visi ke depan dan akomodatif. Sudah begitu kerasnya bekerja, tetapi kritikan ke dirinya juga keras. Pak SBY luar biasa.

Memasuki usia 61 tahun Anda masih terlihat segar dan fit. Apa rahasianya?

Dalam konsep saya, hidup itu harus happy, ikhlas, tidak ada beban. Orang silakan saja kasih kritik tajam, tetapi saatnya tidur ya saya tidur. Tidak ada hurt filling. Olah raga kadan-kadang saja. Kalau ada waktu saya naik sepeda. Kadang saya jalan kaki dan joging. Saya tidak suka malas-malasan. Bangun tidur, langsung beraktivitas. Jaga makan, tidak makan berlebihan.

Cita-cita Anda semasa kecil?

Waktu masih kecil ingin sekolah sampai bachelor [sarjana muda] dan bisa hidup di kota. Tidak muluk-muluk kok. Teman-teman orangtua saya kebanyakan pejuang, anak-anaknya banyak yang sukses. Itu yang memicu saya, setelah tamat sarjana, saya sekolah terus. Saya punya kemauan besar untuk terus belajar.

Obsesi Anda?

Inginnya sih anak-anak lebih baik dari saya. Saya ingin suatu saat bisa kembali ke kampung halaman. Bagaimana mendorong anak-anak yang lima orang untuk maju, itu hal yang penting. Syukurlah, anak-anak sudah menunjukkan keinginan untuk maju. Anak nomor satu sekolah di Australia, anak kedua sudah meraih gelar PhD dari Monash University, Melbourne, Australia. Anak ketiga sekarang sekolah di Shanghai ambil Master. Saya selalu katakan ke mereka, tanpa sekolah nasib tidak akan bisa berubah. (Berliana Elisabeth S/Hendra Wibawa)

 

BIODATA

Nama : I Ketut Mardjana

Tempat, tanggal lahir : Bali, 18 Maret 1951

Pendidikan

1988-1993 : Monash University, Melbourne, Australia. Meraih gelar

Doktor pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

1971-1979 : Institut Ilmu Keuangan (IIK) Jakarta. Meraih gelar Ajun

Akuntan pada 1974 dan gelar Akuntan pada 1979.

Karir

11 Agust 2008-Sekarang : Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero)

25 Juli 2008-Agustus 2009 : Wakil Direktur Utama PT Pos Indonesia

2008- sekarang : Wakil Sekjen Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (ASITA)

2007-Juni 2008 : Direktur Pengembangan Usaha dan Umum PT CMNP Tbk

2004-sekarang : Komisaris PT Jasa Sarana Jabar

2003-2004 : Komisaris PT Kapita Asia

2003-2006 : Komisaris PT Perkebunan Nusantara XI

2000-2007 : Direktur Eksekutif Keuangan PT CMNP Tbk

1998-2002 : Komisaris PT Semen Tonasa (Persero)

1999-2001 : Komisaris PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk

1998 : Komisaris PT Semen Gresik Tbk

1999-Mei 2000 : Direktur Industri Manufaktur, Kantor Menteri Negara

Pendayagunaan BUMN/Badan Pembina BUMN

1998 : Direktur Informasi dan Pengembangan Peraturan BUMN, Ditjen

Pembinaan BUMN Departemen Keuangan

*) Wawancara ini diadopsi dari rubrik “Lunch with CEO” di harian Bisnis Indonesia edisi 4 Januari 2012. Untuk membaca berita Bisnis Indonesia lainnya, silahkan klik epaper Bisnis Indonesia atau kunjungi www.epaper.bisnis.comonline casino

Leave a Reply

Comments are closed on this post.